Urgensitas Computational Thinking untuk Anak Usia Dini

image-1608381640925.png

Bonus demografi yang akan terjadi di indonesia adalah sebuah keniscayaan. Tahun 2020-2030, Indonesia akan memasuki bonusi demografi. Pada rentang waktu tersebut, diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia akan mencapai 70 persen.

Bonus demografi akan mejadi berkah jika angkatan kerja produktif yang mendominasi jumlah penduduk memiliki keterampilan yang dibutuhkan hingga dapat terserap pada pasar kerja secara baik. Sebaliknya, bonus demografi menjadi bencana demografi jika jumlah penduduk potensial tersebut kurang memiliki kompetensi skill yang tidak memadai hingga malah akan dapat menambah beban tinggimnya tingkat pengangguran.

Mempersiapkan generasi adalah hal yang harus dilakukan agar bonus tersebut berdampak positif bagi kemajuan Indonesia. Salah satunya melalui pendidikan yang fokus pada dua hal: Pertama, diberikan sejak usia dini. Kedua, dapat memberi bekal keahlian problem solving.

Untuk keperluan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah computational thinking dan compassion. Computational thinking diperkenalkan pertama kalinya oleh Seymour Papert pada tahun 1980. Kemudian sekitar tahun 2014, pemerintah Inggris membuat kebijakan untuk menerapkan computational thinking sebagai bagian dari kurikulum pendidikan bagi siswa semenjak usia dini. Computational thinking diyakini dapat membantu siswa lebih cerdas dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi dan mampu menemukan problem solving yang tepat dan terukur.

Computational thinking merupakan sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran. Computational thinking dapat menstimulasi otak untuk terbiasa berpikir secara terstruktur, kritis dan logis. Konsep dan proses computational thinking memiliki daya tarik yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan cepat, tepat dan akurat.

Computational thinking mempunyai empat teknik dalam berpikir, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, generalisasi pola atau abstraksi, dan perancangan algoritma.

  • Dekomposisi (decomposition) merupakan kemampuan untuk membreackdown tugas/ masalah kompleks menjadi tugas-tugas kecil yang lebih rinci dan lebih sederhana.
  • Pengenalan pola (pattern recognition) merupakan kemampuan untuk mengenali kesamaan atau perbedaan dari setiap masalah yang disajikan yang akan membantu dalam membuat prediksi. Dalam setiap masalah biasanya terdapat pola-pola tertentu untuk memecahkannya.
  • Abstraksi (abstraction) merupakan kemampuan membuat generalisasi atau memilah informasi yang tidak dibutuhkan dan fokus pada informasi utama (prinsipprinsip umum) yang dibutuhkan sehingga dari informasi tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Seringkali pada teknik ini kesulitan terbesarnya bukan pada bagaimana berfikirnya, tetapi pada upaya mengungkapkan abstraksi tersebut dalam bentuk kalimat yang mudah dicerna. Hal inilah yang juga harus menjadi perhatian para pendidik agar anak-anak mempunyai tradisi berani menyampaikan pendapat.
  • Perancangan algoritma (algorithm) merupakan kemampuan untuk menyusun step-by-step, langkah demi langkah, tahapan demi tahapan penyelesaian masalah secara terstruktur, logis dan kritis. Tahapan-tahapan yang sudah disusun tersebut dapat digunakan oleh anak lain untuk memperoleh solusi atas problem yang sama.

Computational thinking merupakan teknik kecerdasan ini harus sudah mulai dibiasakan pada anak sejak usia dini. Hal ini karena perkembangan kognitif anak usia dini 4-6 tahun berada dalam tahap pra-operasional. Pada tahap praoperasional ini anak akan mampu menggunakan bahasa dan pemikiran yang simbolik dan konkret. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 yang menyatakan “tugas perkembangan anak usia 4-5 tahun terdapat kemampuan kognitif yang harus dikembangkan meliputi kemampuan pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola, konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf melalui media”.

Oleh karena itu, computational thinking untuk anak usia dini dapat dikemas dalam bentuk permainan yang merupakan media efektif bagi anak dalam proses berpikir karena menunjang perkembangan intelektuanya. Bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi dan memperoleh pengetahuan. Melalui bermain, anak akan memperoleh pengetahuan dari rasa ingin tahunya. Dengan kegiatan bermain tersebut anak juga dapat bermain dengan mengurutkan sesuatu seperti gambargambar yang ada sehingga dapat merangsang daya ingat anak dalam jangka panjang dan menerapkan computational thinking.

Urgensitas dari computational thinking adalah membantu anak membuat struktur penyelesaian masalah yang rumit untuk kemudian dapat menyelesaikannya. Permasalahan yang disajikan tentunya harus diupayakan masalah yang sederhana sesuai dengan daya tangkap berpikir usia dini. Melalui permainan mereka diajak untuk memahami masalah, mengumpulkan semua data, kemudian mulai mencari solusi sesuai dengan masalah.

Contoh sederhana dari penerapan computational thinking bagi anak usia dini misalnya dengan menginformasikan kepada mereka dengan masalah banyaknya sampah plastik kemasan makanan yang berserakan di halaman sekolah. Selanjutnya guru meminta mereka mencari solusi dari permasalahan tersebut dengan mengajak mereka membaca buku atau menonton video yang berkaitan dengan permasalahan pemanfaatan limbah sampah plastik.

Dengan demikian anak diharapkan dapat memilah bagian-bagiannya dan prosesnya secara sederhana bagaimana pemanfaatan sampah. Dan hal ini merupakan proses bernama dekomposisi dalam pemikiran komputasi. Selanjutnya anak dapat diminta untuk ke halaman dan praktik mengumpulkan sampah plastik kemasan makanan kemudian membuat rancang bangun sebuah karya. Mereka kemudian diajak mengembangkan rancangannya berdasar ide masing-masing. Berikan mereka kesempatan untuk membuat rancang bangunnya sendiri.

Teknik selanjutnya dalam computational thinking adalah berpikir dengan algoritma. Bimbing anak-anak untuk berpikir dengan mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah agar menjadi logis. Arahkan anak-anak untuk dapat menceritakan kembali urutan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah hingga sampai pada menentukan produk apa yang akan dibuat. Ada baiknya setelah selesai proses permainan edukasi tentang pengelolaan sampah tersebut selesai, guru memberikan informasi penegasan tentang betapa pentingnya mempunyai keterampilan dan kepedulian mengelola sampah untuk kelestarian alam. Walaupun sangat sederhana, namun pembelajaran berbasis computational thinking sudah mengajarkan kepada anak-anak bagaimana pendidikan yang sesungguhnya.

Sebenarnya ada banyak contoh permainan yang dapat diterapkan kepada anak usia dini dalam rangka melatihkan computational thinking mereka. Misalnya, melalui permainan puzzle, memelihara tanaman, atau permainan kelompok. Kreatifitas pendidik sangat berpengaruh untuk keberhasilan penerapan computational thinking pada anak-anak usia dini. Selamat berkreasi dan di ujung hari kita akan bertemu dengan generasi yang tidak gagap dengan zamannya.

image-1608382034467.png