Pendidikan Anak dalam Perspektif Islam

Oleh: Dina Julita

Pendidikan dalam perspektif Islam seringkali didefinisikan ilmuwan ke dalam tiga dimensi istilah, yaitu tarbiyyah, yakni proses pendidikan, pemeliharaan, dan pengasuhan yang menekankan pengembangan fisik dan intelektual; ta’dib, yaitu proses pendidikan yang memberikan penekanan pada pemeliharaan manusia dengan etika mulia, sehingga seseorang dapat menempatkan diri di tengah masyarakat atau yang disebut bersopansantun dan beradab; dan ta’lim, yaitu proses pendidikan yang menekankan pada pengajaran dan pembelajaran (transfer of knowledge). Konsep dan praktik pendidikan dalam Islam harus mempertimbangkan ketiga dimensi tersebut (Yasin & Jani, 2013; Zamroni, 2017).

Berdasarkan konsep tersebut, pendidikan dalam Islam merupakan upaya untuk menemukan keseimbangan antara fisik, mental, psikologis, jiwa, dan spiritual. Untuk mencapai keseimbangan pada seluruh aspek, diperlukan harmoni antara tiga dimensi: akal, pikiran, dan iman. Dengan demikian maka manusia akan mencapai nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan. Artinya, pendidikan bisa mengantarkan manusia pada kemajuan hidup umat yang mana hal itu merupakan tugas setiap muslim (Rayan, 2012; Salleh & Khamis, 2010).

Upaya menemukan keseimbangan dalam diri manusia dimaknai sebagai tujuan pendidikan dalam Islam, sebagaimana disepakati dalam Konferensi Dunia Pendidikan Muslim (World Conference on Muslim Education) yang pertama, di Jeddah, Mekah. Dalam konferensi tersebut dinyatakan tujuan dari pendidikan adalah menghasilkan orang yang baik (a good man) yang diartikan sebagai orang yang mencapai keseimbangan dalam semua aspek. Oleh karena itulah pendidikan harus menjadi sistem pendidikan holistik untuk menuju kebaikan dan kesempurnaan (Yasin & Jani, 2013).

Pendidikan dalam Islam dilaksanakan dengan mengacu pada Al-Quran dan AsSunah. Al-Quran merupakan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Sementara As-Sunah adalah segala tindakan, sikap, perilaku, dan ucapan dari Rasulullah SAW. Dikatakan oleh istri Rasulullah Aisyah, “akhlak Rasulullah adalah Alquran” (Nurhayati & Syahrizal, 2015). Oleh karena itulah Nashih Ulwan (dalam Atabik & Burhanuddin, 2015) mengartikan pendidikan adalah apa yang sesuai dicontohkan Rasulullah SAW, “karena Rasulullah adalah guru yang sesungguhnya, teladan sejati yang memiliki sifat-sifat luhur, baik secara spiritual, moral, maupun intelektual.”

Lingkungan Pendidikan Sejak Dini Di dalam konsep Islam, seorang anak lebih baik diajarkan mengenai Islam sedini mungkin. Itulah mengapa ada anjuran meng-adzani anak ketika baru lahir. Dalam mengajarkan Islam kepada anak, konsep keimanan dan pendidikan akhlak memang yang paling utama untuk disampaikan kepada anak. Dengan demikian Islam tidak dipahami sebagai tatacara ibadah semata, namun lebih kepada pembentukan karakter yang Islami.

Untuk membesarkan anak yang islami diperlukan lingkungan yang baik sehingga anak dapat mempelajari dan meniru budaya yang baik. Ibn Khaldun (dalam Sulaiman, 2014) menyatakan lingkungan yang baik dibutuhkan untuk menciptakan akhlak yang baik, dan akhlak yang baik muncul dari diri anak atas pengamatannya terhadap lingkungan hidup. Pada pokoknya, terdapat tiga lingkungan yang membentuk anak, yaitu:

  1. Orang tua
    Berdasarkan perspektif Islam, orang tua adalah pendidik pertama bagi anak, sumber kehidupan yang sepatutnya menyediakan lingkungan yang baik bagi pendidikan anak. Sejak lahir sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam keluarga. Dari sinilah anak mendapatkan fondasi pendidikan yang akan menjadi dasar yang kuat dalam menjalani kehidupannya kelak (Jailani, 2014; Padjrin, 2016; Sulaiman, 2014).
    Bagi kedua orang tuanya, anak merupakan amanah yang harus dididik dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan sehingga anak tidak hanya selamat di dunia tapi juga di akhirat. (Q.S. at-Tahrim: 6). Tugas orang tua dalam mendidik anak agar selamat dunia dan akhirat adalah dengan memberikan teladan, memelihara anak, dan bertanggung jawab terhadap potensi (fitrah) anak. Pendidikan yang diberikan orang tua akan membentuk karaktek anak (Padjrin, 2016).
  2. Guru
    Setelah orang tua, guru adalah orang yang berperan paling besar dalam mendidik anak. Meskipun anak merupakan tanggung jawab orang tua seoenuhnya, tapi orang tua dapat menyerahkan sebagian tanggung jawab pendidikan kepada seorang guru yang amanah. Guru yang baik mengajarkan pengetahuan sekaligus dapat menjadi teladan bagi anak. Selain memiliki perilaku yang baik, guru juga harus memiliki pengetahuan dalam mendidik sehingga bisa mendorong motivasi anak untuk belajar (Atabik & Burhanuddin, 2015; Sulaiman, 2014).
  3. Lingkungan sosial
    Dalam Islam, masyarakat memiliki peran yang penting, oleh karena itu diajurkan untuk melihat tentangga sebagai pertimbangan dalam memilih tempat tinggal. Anak-anak akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Hidup di tengah masyarakat yang baik akan membantu anak dalam membentuk kepribadian yang baik (Sulaiman, 2014).
    Begitu pula dengan teman sepermainan. Jika anak berteman dengan seseorang yang memiliki peringai yang buruk, maka anak dapat terpengaruh. Seperti sabda Rasulullah yang menyatakan:“Seseorang berada dalam tuntunan temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang bergaul dengannya, Muammal berkata: orang yang menemaninya.” (H.R. Ahmad)

Metode Pembelajaran
Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam mendidik anak usia dini dalam pespektif Islam, di antaranya yaitu:

  1. Metode keteladanan (uswatun hasanah)
    Metode yang paling efektif bagi pembentukan moral spiritual dan sosial anak usia dini adalah melalui keteladanan (Ulwan dalam Atabik & Burhanuddin, 2015). Anak usia dini adalah peniru yang ulung, oleh karena itu sepatutnya anak selalu mendapat keteladan yang baik dari orang tua, guru, maupun lingkungan sekitarnya. Untuk memberikan teladan yang baik, maka sebaik-baiknya acuan adalah Rasulullah SAW. (QS al-Ahzab: 21).
  2. Metode pembiasaan (pengulangan)
    Pembiasaan yang baik terhadap anak akan membentuk akidah Islam yang kokoh dan budi pekerti (akhlak). Kebiasaan yang sudah melekat juga akan meningkatkan produktivitas anak, karena kegiatan anak dilakukan secara spontan tanpa menghabiskan banyak energi lagi untuk mempelajari hal yang sama (Atabik & Burhanuddin, 2015; Zaini, 2014). Dikatakan Al Ghazali (dalam Zamroni, 2017) bahwa memberikan latihan anakanak dengan pengulangan merupakan prioritas dalam mendidik anak. Jika anak dibiasakan berbuat kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi orang yang baik dan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi, jika dibiasakan dengan keburukan dan dibiarkan bagai hewan, maka dia akan tumbuh menjadi orang yang celaka dan binasa.
  3. Metode nasihat
    Nasihat untuk anak usia dini diberikan dengan cara yang lembut dan halus, sehingga anak akan dengan mudah menerima nasihat tersebut. Nasihat yang efektif dan membekas adalah yang diberikan oleh jiwa yang bening, memiliki hati terbuka, dan akal yang bijak (Zaini, 2014; Zamroni, 2017). Memberikan nasihat berupa peringatan merupakan metode yang diterapkan oleh Allah kepada manusia (Q.S Al-Qaaf:37)
  4. Metode perhatian dan pengawasan
    Dikatakan Nasih Ulwan (1928-1987) (dalam Atabik & Burhanuddin, 2015), tokoh Islam yang memperkenalkan pertama kali mata pelajaran Tarbiyah Islamiah, aspek-aspek yang harus diperhatikan oleh pendidik, adalah:
    a. Perhatian pada segi keamanan anak
    b. Perhatian pada segi moral anak
    c. Perhatian pada segi mental dan intelektual anak
    d. Perhatian segi jasmani anak
    e. Perhatian segi psikologi anak
    f. Perhatian segi sosial anak
    g. Perhatian dengan memberikan hukuman dan penghargaan
    Perhatian yang diberikan haruslah sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Misalnya, saat memberi hukuman pun anak tidak boleh merasakan takut, menurunkan mental, dan menyakiti anak tapi diberikan dengan penuh kelembutan. Hukuman diberikan dengan tingkatan dari ringan hingga berat.
  5. Metode bercerita
    Dikatakan Zaini (2014) Cerita merupakan suatu hal yang menarik bagi banyak orang. Saat mengikuti jalan cerita, seseorang dapat melibatkan emosinya: senang, benci, atau kagum kepada tokoh dalam cerita. Melalui cerita yang baik, seseorang juga bisa mendapatkan suatu pesan moral. Begitu pun pada anak usia dini. Cerita melalui dongeng akan lebih disukai anak dan lebih mudah dicerna. Kisah-kisah nabi dapat diceritakan agar anak mengenal dan mencintai nabi.