Membangun Sikap Kemandirian dalam Metode Pembelajaran Montessori

Oleh: Tintin Kartini., SS.,M.Pd

Dewasa ini kita sudah sangat sering mendengar model belajar Montessori dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan anak usia dini. Sebagian ada yang menyebutnya sebagai model pembelajaran; sebagian lainnya menyebut sebagai metode pembelajaran. Dalam berbagai ruang dan kesempatan, para ahli maupun praktisi, serta masyarakat umumpun banyak yang membahas metode Montessori sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran anak usia dini.

Secara global, metode Montessori banyak diterapkan dan diminati oleh masyarakat. Jaringan internasional yang menaungi para praktisi metode Montessori, yang didirikan oleh Maria Montessori sendiri, yaitu Association Montessori Internationale (AMI), saat ini berkembang dengan sangat pesat dan memiliki affiliasi di berbagai negara. Lembaga-lembaga penyelenggara diploma Montessoripun berkembang dan cukup diminati baik oleh pendidik PAUD maupun orangtua yang ingin memperdalam metode Montessori.

Bahkan, tidak sedikit sekolah yang secara khusus menyelenggarakan program pembelajaran yang menerapkan metode Montessori dan memberikan label sebagai sekolah Montessori. Sekolah Montessori banyak diminati di kotakota besar walaupun biaya pendidikan sekolah Montessori lebih besar dibandingkan dengan sekolah-sekolah “non-Montessori”. Walaupun metode Montessori pertama kali dikenal sekitar 100 tahun lalu, namun sampai saat ini masih terbukti efektif dalam pembelajaran anak usia dini di berbagai negara dengan beragam budaya dan kultur yang dimiliki. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui dampak dari penggunaan metode Monåtessori pada anak usia dini. Penggunaan model Montessori pada pendidikan anak usia dini secara substansial berdampak pada peningkatan IQ lebih tinggi dan secara positif mempengaruhi kompetensi dan perilaku sosial, serta keterampilan pengelolaan emosi, (Ahmadpour & Mujembari, 2015), (Dereli İman et al., 2019).

Penelitian di sekolah yang menerapkan metode Montessori di Indonesia telah juga banyak dilakukan, walaupun sebagian besar masih merupakan studi kasus di satuan pendidikan tertentu yang menyelenggarakan metode Montessori. Salah satu penelitian dilakukan di Kelompok Bermain (KB) Safa Islamic Preschool Yogyakarta. Hasil penelitian Mumtazah, D. dan Rohmah (2018) menunjukkan bahwa dampak penerapan metode Montessori terhadap perkembangan anak antara lain menjadikan anak lebih mandiri, kritis dan mengalami perkembangan sosial yang meningkat.

Hal ini sejalan dengan penelitan yang dilakukan oleh Wulandari dkk (2018). Hasil penelitian yang dilakukan di preschool Awliya Kids Center Cirebon tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dalam metode Montessori berperan dalam menstimulasi karakter mandiri anak. Karakter mandiri anak dapat dilihat dari kemampuan anak melayani diri sendiri. Dua penelitian tersebut menggarisbawahi bagaimana metode Montessori berpengaruh pada kemandirian anak. Erikson dan Mahler (dalam Sa’diyah, 2017) berpendapat bahwa kemandirian adalah hal yang sangat penting dalam dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Erikson menggambarkan tahap perkembangan yang ke dua ini sebagai tahap otonomi vs malu dan ragu-ragu.

Pengasuhan yang tepat dengan memberikan kepercayaan anak mampu melakukan sesuatu sendiri sesuai dengan tahapan perkembangannya akan membangun sikap otonom; sedangkan pengasuhan yang sebaliknya akan mendorong anak menjadi malu dan ragu-ragu. Erikson juga percaya fase ini mempunyai implikasi yang sangat penting dalam perkembangan kemandirian dan identitas anak selama masa remaja. Senada dengan Erikson, Mahler (dalam Sa’diyah, 2017) memandang tahap otonomi adalah masa anak belajar mandiri, salah satunya adalah masa anak belajar berpisah dari orang tuanya dengan percaya diri.

Bagaimana metode Montessori menjembatani pembelajaran anak sehingga muncul sikap mandiri pada anak? Jika kita menelaah prinsip fundamental metode ini terlihat dengan jelas benang merahnya. Prinsip fundamental dari metode montessori menurut penemunya (dalam Isaacs, 2018) adalah kebebasan pada anak. Anak-anak harus bebas mengekspresikan diri mereka sendiri dan dengan demikian harus berada pada lingkungan yang secara spontan memungkinkan mereka untuk mengungkapkan kebutuhan dan sikap.

Jika lingkungannya tidak mengungkinkan hal tersebut, maka kebutuhan dan sikap tersebut akan tetap tersembunyi atau tidak terekspresikan dengan spontan. Isaacs (2018) menekan pada dua prinsip utama dari metode Montessori.

Prinsip pertama, pembelajaran berpusat pada anak. Di semua ruang kelas Montessori, observasi adalah alat kunci dari keterampilan guru dan sangat penting dalam memastikan kebebasan belajar setiap anak. Dalam konsep Montessori, pembelajaran dan perkembangan berjalan seiring. Dengan demikian, ketika anak diberi kebebasan yang memadai dengan disertai beberapa tanggung jawab. Dengan diberikan kebebasan yang disertai tanggungjawab, maka bakat dan minat alami anak akan keluar. Strategi pengajaran Montessori didasarkan pada gagasan bahwa, dengan lingkungan belajar yang sesuai dengan perkembangan, anak-anak akan mampu mengajar diri mereka sendiri dengan memilih aktivitas yang menarik dan mendalaminya. Montessori mengistilahkan tipe pembelajaran tersebut sebagai pembelajaran mandiri.

Prinsip kedua dalam pembelajaran Montessori menurut Isaacs (2018) adalah konsekuensi dari menjadikan anak sebagai pusat pembelajaran; guru berperan sebagai pendukung terjadi proses pembelajaran. Ini berarti bahwa pembelajaran anak berfokus pada minatnya; sementara guru memastikan bahwa minat tersebut mencakup semua aspek kurikulum. Montessori (dalam Isaac, 2018) menyadari bahwa untuk dapat mendukung anak dalam pembangunan dirinya, peran dan sikap pendidik harus menyesuaikan.

Pendidik harus berperan sebagai sutradara yang menunjukkan bahwa perannya adalah mengarahkan anak melakukan proses “konstruksi diri”. Pendidik dengan peran seperti itu harus memiliki kualitas tertentu yang oleh Montessori diidentifikasi sebagai kemampuan untuk berdiri dibelakang anak dan memberinya kesempatan untuk membuat pilihan yang mencerminkan minat anak. Anak yang mendapatkan pengasuhan seperti ini akan tumbuh menjadi anak yang mampu mengarahkan pembelajarannya sendiri tanpa pengaruh yang berlebih dari pendidik.

Pendekatan ini sangat relevan untuk anak-anak usia dini, yang rasa harga dirinya dibangun di atas otonomi mereka dan peningkatan kompetensi, yang biasanya merupakan hasil dari kesempatan untuk mengulang dan menyempurnakan keterampilan dan kegiatan. Otonomi ini membimbing anak menuju inisiatif dan kemampuan untuk menerima tantangan dan pengambilan risiko.

Untuk menciptakan kondisi pembelajaran seperti itu, Isaacs menegaskan bahwa seorang pendidik dalam pembelajaran Montessori harus ini memiliki beberapa kemampuan seperti:

  • memahami perkembangan anakanak dan pedagogi Montessori;
  • memiliki pengetahuan mendetail tentang minat dan gaya belajar anak;
  • mampu menggunakan berbagai sumber daya sesuai dengan kebutuhan anak;
  • memiliki keyakinan bahwa setiap anak memiliki percaya potensi unik;
  • melayani anak sehingga anak dibiasakan untuk membangun dirinya sendiri, membangun keyakinan dan kepercayaan pada kemampuan anak untuk belajar sendiri tanpa banyak campur tangan orang dewasa;
  • memiliki sikap sabar, rendah hati dan menghormati upaya anak dengan mengesampingkan keinginan untuk mengontrol anak;
  • merefleksikan praktik orang lain (dalam menerapkan metode Montessori) dan belajar dari praktis tersebut; menggunakan pengalaman pribadi, dialog dengan rekan kerja, dan studi lebih lanjut tentang tren dan penelitian terkini sebagai panduan untuk refleksi mereka;
  • menjadi seorang pembela bagi anak, yang menandai masa depan umat manusia dan menggunakan potensi untuk perubahan sosial. 

Dari uraian di atas, jika kita cermati, salah satu kunci dalam menerapkan metode Montessori adalah pada pendidik. Walaupun, dalam metode Montessorri berpusat pada anak, namun tidak berarti pendidik menjadi lebih ringan tugasnya. Pendidik harus mampu berperan sebagai pengasuh, mitra, dan pemandu arah anak-anak dalam mencapai tujuan pencapaian tugas-tugas perkembangan. Yang tidak kalah penting adalah peran orangtua di rumah dan yang harus bersinergi dengan pembelajaran di satuan pendidikan.

image-1608382792139.png