Maria Montessori

Oleh : Tintin Kartini, S.S, M.Pd

image-1608387080305.png

Setiap kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Anak Usia Dini, tentu sudah mengenal metode Montessori dan mengakui kehebatan metode tersebut dalam melejitkan potensi anak. Namun, apakah kita mengenal siapa tokoh di belakang metode tersebut? Mari sejenak kita meneropong tokoh pencetus metode hebat ini sehingga kita bisa sedikit memperoleh gambaran yang membuat seorang Maria Montessori mampu melahirkan sebuah metode pembelajaran yang sampai saat ini, satu abad setelahnya, masih mendapatkan tempat dan dipraktekkan dalam pembelajaran anak usia dini.

Metode Montessori lahir sebagi sebuah hasil kecintaan seorang Maria Montessori terhadap pekerjaan dan kepeduliannya terhadap pendidikan anak. Maria Montessori merupakan seorang dokter jiwa berkebangsaan Italia. Lahir di Ancona Italia tanggal 31 Maret 1870, Maria Montessori berasal dari orangtua yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Dalam laman American Montesorri Society, disebutkan bahwa Maria lahir dari seorang ayah yang merupakan manager keuangan di sebuah perusahaan negara; sedangkan ibunya dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan, bahkan dianggap mendapatkan pendidikan yang melebihi kelajiman untuk perempuan pada masa itu.

Hal tersebut kemudian mengakar kuat pada Maria muda yang sangat familiar dengan buku-buku, perpustakan dan museum; dan di kemudian hari mendorongnya untuk menyelami berbagai ilmu pengetahuan. Dengan masa kanak-kanak yang sudah sangat dekat dengan bacaan “bergizi”, Maria Montessori tumbuh menjadi remaja cerdas, percaya diri, berkemauan keras, dan tidak mau dibatasi oleh ekspektasi tradisional terhadap perempuan. Tidak mengherankan pada usia 13 tahun Maria sudah tertarik pada bidang-bidang teknik, walaupun seiring dengan waktu ketertarikannya bergeser pada bidang kedokteran.

Pada tahun 1896, Maria lulus sekolah kedokteran dan menjadi dokter perempuan pertama di Italia. Dikutif dari laman Montessori Australia, meski menghadapi banyak kendala karena sebagai perempuan yang berkecimpung dalam dunia yang didominasi laki-laki, Maria ditetapkan memenuhi syarat sebagai dokter pada Juli 1896. Selanjutnya, Maria membuka praktik dokter dengan fokus pada kejiwaan. Pada tahun 1897, Maria mengikuti program penelitian di klinik psikiatri Universitas Roma sebagai sukarelawan. Melalui program inilah minat dan perhatian Maria terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dimulai.

Pada usia dua puluh delapan tahun Maria mulai mengenalkan teorinya yang pada masa itu dianggap kontroversial, yakni Maria berkeyakinan bahwa kurangnya dukungan untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah penyebab yang mendorong munculnya kenakalan mereka. Keterlibatan Maria dalam menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus, kemudian mendorongnya untuk mendalami teori pendidikan. Teori kejiwaan dan pendidikan yang dimilikinya, kemudian mengantarkan Maria untuk mengamati, dan mengembangkan metode yang bisa digunakan dalam mengajar anak-anak dengan disabilitas intelektual maupun perkembangan.

Dalam laman American Montesorri Society, disebutkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki metode ini datang pada tahun 1900, ketika Maria ditunjuk sebagai wakil direktur dari sebuah institut pelatihan bagi guru pendidikan khusus. Maria mengerjakan melakukan eksperimen untuk mengujicoba metode tersebut secara ilmiah, mengamati dan bereksperimen dengan cermat untuk mempelajari metode pengajaran mana yang paling berhasil. Sementara itu, laman Montessori Australia menyebutkan bahwa pada tahun 1901 Maria memulai studinya dalam bidang filsafat dan antropologi pendidikan, serta bidang belajar mengajar anak.

Dari 1904-1908 dia menjadi dosen di Sekolah Pedagogik Universitas Roma. Pada periode ini Roma mengalami perkembangan yang pesat, tetapi sekaligus juga menuai konflik sosial seperti terjadi banyak masalah pada anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka bekerja. Konflik yang terjadi pada anak ini, tidak sedikit yang berujung pada perusakan properti yang dilakukan anak. Dalam upaya membekali anak-anak dengan aktivitas di siang hari untuk menangani perusakan properti, Maria berkesempatan untuk memperkenalkan materi dan latihannya kepada anak-anak ‘normal’ tersebut.

Pada tahun 1907, Maria menerima tantangan untuk membuka pusat penitipan anak Fullday di San Lorenzo, distrik kota Roma yang miskin. Para siswanya adalah anak-anak yang kurang terlayani, usia 3 - 7 tahun, yang dibiarkan sendirian saat orang tua mereka pergi bekerja. Pusat ini merupakan rumah anak (Casa dei Bambini ) pertama yang dididirikan di Italia.

Anak-anak tersebut yang pada awalnya sulit diatur, tetapi segera menunjukkan minat yang besar dalam mengerjakan teka-teki, belajar menyiapkan makanan, dan berimprovisasi terhadap materi pembelajaran yang telah dirancang Maria. Maria menyimpulkan bahwa anak-anak tersebut menyerap pengetahuan dari lingkungan mereka, dan pada dasarnya anak-anak tersebut sedang mengajar diri mereka sendiri.

Menggunakan pengamatan ilmiah dan pengalaman yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya dengan anak-anak, Maria merancang materi pembelajaran dan lingkungan kelas yang menumbuhkan keinginan alami anak untuk belajar dan memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih materi mereka sendiri. Hasil pengamatan Maria tersebut yang kemudian menjadi salah satu dasar filosofis metode Montessori.

Pada tahun 1909 Maria memberikan kursus pelatihan pertamanya dalam pendekatan barunya kepada sekitar 100 siswa. Catatannya dari periode ini menjadi bahan untuk buku pertamanya yang diterbitkan pada tahun yang sama di Italia berjudul Il metodo della pedagogia scientifica.

Yang mengejutkan banyak orang adalah anak-anak dalam program Maria berkembang pesat, menunjukkan konsentrasi, perhatian, dan disiplin diri secara spontan. “Metode Montessori” mulai menarik perhatian para pendidik, jurnalis, dan tokoh masyarakat terkemuka. Pada tahun 1910, sekolah Montessori dapat ditemukan di seluruh Eropa Barat dan didirikan di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat tempat sekolah Montessori pertama dibuka di Tarrytown, NY, pada tahun 1911. Pada tahun 1912 terjemahan buku Il metodo della pedagogia scientifica diterbitkan di Amerika Serikat dan mulai dikenal sebagai Metode Montessori, dan kemudian diterjemahkan ke dalam 20 bahasa.

Sejak tahun 1917, Maria tinggal di Spanyol dan bergabung dengan anaknya, Mario, dan istrinya Helen Christy, di mana merekamembesarkan 4 anak mereka Mario Jr, Rolando, Marilena dan Renilde. Di tahun-tahun berikutnya, dan selama sisa hidupnya, Maria mendedikasikan dirinya untuk memajukan pendekatan pendidikan yang berpusat pada anak. Maria mengajar secara luas, menulis artikel dan buku, serta mengembangkan program untuk mempersiapkan guru dalam Metode Montessori. Melalui upaya dan karya pengikutnya, pendidikan Montessori diadopsi di seluruh dunia.

Pada tahun 1929, Maria dan Mario mendirikan Asosiasi Montessori Internationale (AMI) sebagai sarana publikasi Metode Montesori. AMI berkantor pusat di Belanda dan sampai saat ini telah berkembang dengan ribuan anggota yang tersebar di seluruh dunia. Visi dari Association Montessori Internationale (AMI) adalah untuk mendukung perkembangan alami manusia dari lahir hingga dewasa, memungkinkan mereka menjadi agen pengubah dalam masyarakat menuju dunia yang lebih harmonis dan damai. Masyarakat di seluruh dunia bisa bergabung menjadi anggota AMI untuk mendapatkan berbagai fasilitas yang disediakan.

Selain diabadikan dalam sebuah asosiasi, karya besar dan pengabdian Maria Montessori diakui secara internaional dengan dinominasikannya Maria Montessori untuk Hadiah Nobel Perdamaian dalam tiga tahun berturutturut yaitu tahun 1949, 1950 dan 1951. Keterlibatan publik terakhirnya adalah mengikuti Kongres Montessori Internasional ke-9 di London pada tahun 1951. Maria Montessori meninggal dunia pada usia 81 pada 6 Mei 1952 di Belanda.