Macam-Macam Desain Kurikulum

Oleh: Dina Julita

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang dianugerahi akal sebagai pembeda dengan makhluk yang lain. Dengan potensi tersebut, manusia semakin maju dan berkembang dalam menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua itu diperoleh melalui proses pendidikan Dalam proses pendidikan, ada komponen-komponen yang harus terpenuhi yaitu kurikulum dan pembelajaran.

Untuk merumuskan kurikulum, maka perlu untuk menentukan desain kurikulum. Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-¬prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksa¬naannya.

Dalam mendesain kurikulum, hal yang harus dipertimbangkan adalah menghubungkan antar komponen kurikulum. Terdapat empat bagian mendasar komponen kurikulum yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar dan evaluasi. Ornstein dan Hunkins (2009) menyebutkan ada empat pertanyaan yang harus dijawab mengenai komponen kurikulum, yaitu; Apa yang harus dikerjakan? Materi pelajaran apa yang harus dimasukkan? Apa instruksional pada strategi, sumber daya, dan kegiatan yang harus digunakan? Apa metode dan instrumen harus digunakan untuk menilai hasil dari kurikulum?

Hubungan antar komponen-komponen tersebut harus mencakup ruang lingkup (scope), urutan (ruang lingkup), kontinuitas, integrasi, artikulasi, dan keseimbangan (balance). (Ornstein dan Hunkins, 2009, hlm 186-190).

Ruang lingkup adalah keluasan dan kedalaman isi. Urutan kurikulum terdiri dari empat prinsip yaitu pembelajaran sederhana ke kompleks, pembelajaran keseluruhan ke bagian-bagian (umum ke khusus), pembelajaran prasyarat (bertahap, harus dikuasai sebelum melanjutkan ke tahapan lain) dan pembelajaran kronologis (konten beruturutan). Kontiunitas adalah kesempatan untuk praktik dan mengembangkan keterampilan secara berulang dan berkelanjutan. Integrasi mengacu pada menghubungkan semua jenis pengetahuan dan pengalaman yang terdapat dalam perencanaan kurikulum, sehingga siswa memahami pengetahuan sebagai kesatuan daripada terpisah. Artikulasi mengacu pada keterkaitan vertikal dan horizontal berbagai aspek kurikulum.

Artikulasi vertikal adalah hubungan yang harus ada antara materi pokok bahasan, topik atau materi pelajaran, sedangkan kriteria artikulasi horizontal timbul apabila ada interelasi antara atau antar materi beberapa mata pelajaran yang berbeda yang diajarkan pada waktu yang bersamaan. Keseimbangan ialah memperhatikan agar terdapat bobot yang sesuai untuk setiap aspek desain. Dalam kurikulum yang seimbang, siswa dapat memperoleh dan menggunakan pengetahuan dengan cara yang mengembangkan tujuan pribadi, sosial, dan intelektual mereka.

Selain komponen kurikulum, hal lain yang harus dipertimbangkan yakni filosofi dan teori pembelajaran. Hal ini untuk menentukan apakah desain kurikulum kita cocok dengan keyakinan dasar kita mengenai siswa, bagaimana mereka harus belajar, dan bagaimana mereka memperoleh pengetahuan dari proses belajar. Lebih jelas lagi oleh Ornstein dan Hunkins (2009, hlm.183) menyatakan bahwa penyusun desain kurikulum harus menelaah secara jelas pandangan filosofi, sosial, dan politik masyarakat setempat dan individu siswa, yang mana hal-hal tersebut disebut sumber desain kurikulum.

Meskipun desain kurikulum memiliki berbagai bentuk, kebanyakan desain kurikulum adalah modifikasi dan atau interpretasi dari tiga desain dasar, yaitu: Subject-centered designs, Learnercentered designs, dan Problem-centered designs.

Subject-Centered Designs
Desain subject-centered suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar. Hingga saat ini, desain subject centered adalah desain yang paling populer dan banyak digunakan. Dalam subject centered design, kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara terpisah-pisah. Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini disebut juga separated subject curriculum.

Dikemukan Sukmadinata (2009), ada beberapa kelemahan dan kelebihan dari desain kurikulum dasar ini. Beberapa kelebihan dari model desain kurikulum ini adalah mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan disempurnakan. Selain itu, para pengajarnya pun tidak perlu dipersiapkan khusus, asal menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.

Sementara kekurangan dari desain ini, adalah pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal itu bertentangan dengan kenyataan, sebab dalam kenyataan pengetahuan itu merupakan satu kesatuan. Selanjutnya, memiliki karakter yang mengutamakan bahan ajar maka peran siswa sangat pasif. Kekurangan lainnya, pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalistis dan kurang praktis.

Atas dasar kekurangan tersebut, desain kurikulum ini telah banyak dikritisi. Para pengkritik menyarankan perbaikan desain kurikulum menjadi lebih terintegrasi, praktis, dan bermakna serta memberikan peran yang lebih aktif kepada siswa.

Learner-centered designs
Pada desain kurikulum dasar ini, siswa mendapatkan tempat utama. Guru hanya berperan menciptakan situasi belajarmengajar, mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan siswa. Siswa bukanlah tiada daya, dia punya potensi untuk berbuat, berperilaku, belajar dan juga berkembang sendiri. Learner centered design bersumber dari konsep Rousseau tentang pendidikan alam yang menekankan perkembangan siswa. Pengorganisasian kurikulum didasarkan atas minat, kebutuhan dan tujuan siswa.

Salah satu desain kurikulum yang termasuk ke dalam learner-centered designs adalah child centered design. Para pendukung child centered design percaya bahwa siswa harus aktif dalam lingkungan belajar, dan pembelajaran tidak boleh dipisahkan dari kehidupan siswa seperti yang sering terjadi pada subject centered design. Sebaliknya, desain harus didasarkan pada kehidupan, kebutuhan, dan minat siswa. Untuk mengenali kebutuhan dan minat siswa tersebut diperlukan pengamatan yang cermat terhadap siswa. Pendukung desain ini menganggap pengetahuan merupakan hasil dari pengalaman pribadi. Individu menggunakan pengetahuan untuk mengembangkan dan menentukan tujuan saat berinteraksi dengan dunia. Oleh karena itu siswa harus memiliki kesempatan langsung untuk mengeksplorasi pengetahuan logikas, fisik, sosial, dan emosi mereka, sehingga mereka dapat secara aktif membangun pemahaman mereka sendiri. Pergeseran penekanan dari materi pelajaran (subject centered) dengan kebutuhan dan minat anak-anak (child centered) adalah bagian dari filsafat pendidikan Rousseau.

Rousseau percaya bahwa anak-anak harus diajarkan dalam konteks lingkungan alami, bukan dalam satu buatan seperti ruang kelas. Pengajaran juga harus sesuai tingkat perkembangan anak. Para pendukung desain child centered juga menarik pemikiran dari ahli pedagogis lainnya. Heinrich Pestalozzi dan Friedrich Froebel berpendapat bahwa anakanak akan mencapai realisasi diri melalui partisipasi sosial; mereka menyuarakan prinsip learning by doing. Pendekatan sosial mereka terhadap pendidikan dilandasi oleh pemikiran Francis Parker. (Ornstein dan Hunkins, 2009) Problem-centered designs merupakan desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat (Hamalik, 2007, hlm.195).

Problem-centered designs
berfokus pada permasalahan yang dihadapi baik oleh individu maupun masyarakat di kehidupan nyata. Biasanya bertujuan untuk memperkuat tradisi budaya dan memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi di masyarakat. Maka desain ini seringkali didasarkan kepada isu-isu yang ada di masyarakat. (Ornstein,2009, hlm. 170) Berbeda dengan learner centered design yang menempatkan manusia atau siswa secara individual, problem centered desain justru menempatkan manusia atau siswa sebagai manusia dalam kesatuan kelompok dalam masyarakat (Sukmadinata, 2012). Konsep desain ini berawal dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup bersama yang akan terus berinteraksi, bekerja sama meemcahkan permasalahan yang dihadapi demi peningkatan kesejahteraan mereka.

Kurikulum 2013 PAUD
Lalu, masuk ke dalam desain apakah kurikulum 2013 PAUD? Apakah subject, learner, atau problemcentered design? Jika ditilik dari Lampiran Permendikbud No.146 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bisa dikatakan, bentuk desain kurikulum 2013 berada di antara learner-centered designy dan problem-centered design. Hal ini dikarenakan prinsip kurikulum 2013 PAUD adalah berpusat pada anak tapi juga sekaligus memberikan pengalaman bermakna pada anak. Pada dasarnya kurikulum 2013 PAUD dikembangkan dengan prinsip berpusat pada anak yaitu dengan mempertimbangkan potensi, minat, bakat, perkembangan, dan kebutuhan semua anak, termasuk anak yang mempunyai kebutuhan khusus.

Bersamaan dengan itu, kurikulum 2013 juga dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak dengan memperhatikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkembang secara dinamis.

Jadi, dalam merancang kurikulum PAUD, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengenai anak sebagai subjek. Mulai dari latar belakang, karakteristik, hingga usia anak. Dengan memperhatikan hal itu, kemudian kurikulum dirancang dengan tujuan memberikan memberikan pengalaman belajar yang luas bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak agar mereka bisa memiliki landasan untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, serta mengembangkan kemampuan sebagai pewaris budaya bangsa yang kreatif dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa.