TIPS

7 Jurus Marah Bikin Enak, Tanpa Enek Pada Anak

Oleh: Enjang Idrus, M.Pd.I, CH. C.NNLP, C.PS, C.STMI

Tips marah yang baik Aneh yak ok ada tips marah yang baik. Dah jangan bilang aneh, toh saya juga yang bikin tips ini juga bukan orang aneh. He…he…

  1. Saat kita marah hindari kata-kata negatif, karena kata negatif akan tersimpan dalam memori anak. Misalnya, “ Dasar Anak Nakal,” lebih baik ganti “ Dasar anak Cerdas.”
  2. Hindari bentakan apalagi sampai tetangga tahu, malu kan anak kita yang salah diketahui tetangga dan kita juga malu masa orang tua kaya gitu sih. He…he..
  3. Jangan dihadapan teman-temanya atau tempat umum karena akan merusak harga dirinya. Sebaiknya marah pada saat berdua bersama anak.
  4. Apabila kita marah saat berdiri segera duduk, terus sebaliknya bila sedang duduk marah, maka berdiri atau berbaring dan atur pernafasan.
  5. Bila marah memuncak lebih baik tinggalkan anak, karena pasti mengelurkan kata-kata yang tidak pantas dan merusak otak bahkan psikis anak, selain itu orang tua akan menyesal.
  6. Dalam syariat islam, bila marah segera ucapkan Taawwudz dan bewudhu. Karena dalam kemarahan itu akan mudah setan masuk dan menghasut. Dengan taawudz setan akan menjauh dan dengan wudhu menjadi lebih dingin dan pikiran fresh kembali. Kenapa demikian karena saat marah itu peredaran darah dengan cepat, dengan wudhu menstabilkan kembali aliran darah.
  7. Bila marah sudah dilakukan, pada saat kita sedang tidak marah. Meminta maaf pada anak atas maksud kemarahan. Sehingga anak tidak mengulangi hal yang membuat marah. Di sisi lain ini juga mengajarkan jiwa pemberani minta maaf dan pemberi maaf dari anak.

Sekarang bagaimana kalau anak marah atau tantrum? Ciri-ciri anak marah bisa saja dengan ucapanya, cuek saat diberitahu atau diajak atau malah bicara yang tidak pantas. Nah bicara yang tidak pantas ini pasti ada contoh yang pernah dilihatnya, semoga saja tidak dari orang tua. He..he..

Selain itu, ada juga anak marah karena keinginanya untuk dipenuhi. Bila hal ini tidak bisa berikan cara dengan tenang, maka bairkanlah anak marah di pangkuan orang tua selama itu tidak menimbulkan bahaya pada dirinya atau orang lain. Karena bila dituruti, maka marah akan menjadi senjata saat menginginkan sesuatu dimasa yang akan datang.

3 JURUS MENDIDIK ANAK SESUAI PERIODE EMAS MENDIDIK ANAK

Oleh: Enjang Idrus, M.Pd.I, CH. C.NNLP, C.PS, C.STMI

Mendidik anak itu gampang-gampang susah, karena perkembangan zaman dan pengaruh zaman. Sebuah konsep terbukti bisa melahirkan generasi hebat dan bermanfaat yakni menggunakan 3 jurus pendidikan anak. 3 jurus ini diajarkan oleh rasulullah SWA. Pendidikan sesuai zamannya, Rasululah mengatakan, “anak dalam tujun tahun pertama adalah raja, tujuh tahun kedua adalah pembantu (yang harus taat dalam menjalankan perintah) dan tujuh tahun ketiga adalah mentri yang bertangung jawab atas tugas-tugasnya.”

Dipertegas lagi dalam proses pendidikanya Rasululah mengatakan, “Biarkanlah anak-anak bermain dalam tujuh tahun pertama, kemudian didik dan bimbing mereka dalam tujuh tahun kedua sedangkan tujuh tahun berikutnya jadikanlah mereka senanatiasa bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas.”

Jurus Pertama Pola Asuh Raja.
7 Tahun Masa Menjadi Raja. Makna raja bukan raja sesungguhnya dalam pemerintahan, namun makna raja yang bebas berkehendak atau berekspresi untuk meningkatnya tumbuh kembang anak dalam Bermain dan Kehendaknya.
Dunia anak itu dunia bermain, dia tidak mengenal waktu dan tempat, sekalipun di tempat ibadah, anak akan bermain. Walaupun dilarang untuk bermain anak pasti akan bermain karena itu jiwanya karena itu dunianya yang tidak bisa dilarang apalagi dihentikan, bila dihentikan dalam bermain, tumbuh kembang anak terhambat. Dan ini sangat berbahaya, fase bermain ini adalah fase kebutuhan anak dalam dunianya. Saat kebutuhan di fase ini tidak terpenuhi, maka perkembangan selanjutnya terhambat. Maka pemerintah menggulirkan Pendidikan Anak Usia Dini. PAUD dengan sistem pendidikan mengedepankan bermain sebagai dunia anak dan menjadi prioritas sistem pembelajarannya.
Anak bermain bebas dalam permainnya, yang menjadi perhatian orang tua dalam bermain anak itu. Selama bermain tidak berbahaya bagi dirinya atau orang lain tidak perlu riskan. Anak sangat senang dalam bermain apalagi bersama orang tuanya, tertawa riang gembira walapun tanpa alat permainan. Bahkan anak kuda-kudaan menaiki penggung ayahnya, itu saja membuat anak bahagia.

Jurus Kedua Pola Asuh Pembantu
7 Tahun Kedua Masa Menjadi Pembantu. Makna pembantu disini bukan makna pembantu sesungguhnya harus mengerjakan pekerjaan rumah, kebun dan lain-lain. Tetapi sebagai pembantu yang mempunyai hak dalam proses pendidikan dan bimbingan. Pada fase ini anak sangat membutuhkan pendidikan dan bimbingan sebagai penanaman pengetahun dan membangun skill kehidupan.
Pada 7 tahun kedua ini proses pembimbingan lebih mendalam karena mulai karena sudah mulai banyak pengaruh dari luar rumah, baik melalui pergaulan dengan teman dilingkunganya, ataupun pengaruh dari pendidikan di jenjang ini sebagai dasar setelah anak lebih lama lagi bergaul dan belajar di luar rumah.

Jurus 3 Pola Asuh Mentri
7 tahun ketiga yakni sebagai mentri. Mentri itu mengambil tangung jawab, mengambil keputusan dan berdikusi atau kerjasama dengan orang lain. Maksud dari mentri ini yakni pola pendidikan yang dilakukan sesuai dengan pola pikir anak, karena diusia ini anak sudah bisa berpikir sendiri dengan baik, sudah bisa diajak berdiskusi atau musyawarah, diajak ngobrol mendalam dan bertangung jawab atas dirinya.
Pola asuh yang dilakukan pada masa 7 tahun ketiga yakni pola asuh kolaborasi atau kerjasama anatara orang tua dan anak melalui diskusi dan musyawarah serta pada usia ini anak sudah dikenakan hukum dalam Islam. Jadi apa yang dilakukan anak sudah termasuk tanggung jawab penuh, baik itu tangung jawab atas perilaku buruknya dan perilaku baiknya. Istilahnya sudah dikenakan hukum dan dosa. Sepenuhnya anak sudah bertangung jawab atas dirinya dan tindakannya.
Tiga Fase pendidikan ini menjadi tolak ukur proses dan keberhasilan pendidikan. Saat anak jadi raja bertindak sesuai kehendaknya, anak tidak usah banyak larangan selama itu tidak berbahaya dan membahayakan. Hindari bentakan, karena usia ini usia tingkah lakunya sekehendak hati anak, dibilang ini dan itu anak pasti kembali pada dunia raja atau dunia bermainnya.
Pola asuh fase kedua mengedepankan pembimbingan, pengasuhan karena pola pikir mulai berkembang dan pola sikap mulai tumbuh serta pergaulan mulai banyak di luar rumah. Fase ketiga pola asuh anak mulai dengan memberikan tangung jawab, diajak diskusi karena pemikiranya sudah berjalan stabil dan dapat menetukan sikap mana yang baik, benar, buruk dan jelek.

Ketiga fase ini sebagai penentu pola pendidikan anak dimasa depannya, salah satu fase pendidikan yang diabaikan akan berpengaruh negatif pada kehidupan anak di masa dewasa. Tidak sedikit anak jauh dari orang tua karena pola asuh tidak menjadi perhatian, tidak sedikit kenakalan remaja, tidak sedikit anak yang durhaka pada orang tua, dan memperihatikan tindakan asusila di kalangan remaja selalu meningkat.