LAPORAN UTAMA

Adaptif di Masa Covid-19

Oleh : Mardi Wibowo


"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya selalu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin.
Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar.
Hal itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)

Manusia merupakan makhluk paling sempurna, yang telah diberi bekal teramat cukup untuk dapat merespon berbagai masalah untuk kemudian survive dalam kondisi apa pun. Manusia mempunyai pancaindra, pikiran, dan kemampual belajar dari berbagai sumber daya yang tak terbatas. Inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling mampu bertahan. Hal ini karena manusia diberi kecakapan adaptif dengan berbagai kondisi hingga segalanya senantiasa berbuah kebaikan.

Bersyukur dan bersabarnya bukan menjadi bagian akhir dari kehidupannya tetapi ditindaklanjuti dengan upaya untuk terus mencari cara yg lebih baik. Ada sebuah kata bijak yang dapat menggambarkan tersebut bahwa yang dapat bertahan dan berhasil bukanlah yang paling pandai, paling kuat, paling besar, atau paling kecil, melainkan yang adaptif, yaitu yang paling mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Pandemi yang saat ini membuat heboh dunia yang dikenal dengan Covid-19 sudah menjadi perombak kenormalan. Banyak aktivitas yang mesti kompromi dengan kondisi yang terjadi jika tidak mau berujung dengan gangguan kesehatan yang merupakan poin utama dalam kehidupan. Covid-19 mengakibatkan dampak yang signifikan di berbagai sektor salah satunya adalah sektor pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi sebuah keniscayaan agar pembelajaran dapat tetap berlangsung. Jenjang pendidikan anak usia dini pun ikut terdampak. Belajar dari rumah menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk menghadapi pandemi ini.

Dalam kondisi seperti ini Kemdikbud memang sudah cukup sigap dengan menerbitkan beberapa kebijakan terkait pembelajaran di masa pandemi ini. Di antaranya dengan menerbitkan Buku Saku yang dapat di akses di alamat https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/buku-saku-paud/. Buku saku tersebut menunjang tugas guru dalam 3 kategori. Pertama, merancang pembelajaran, mengimplementasikan dan menilai tumbuh kembang anak. Kedua, menunjang pembelajaran komunikasi dan bekerjasama dengan orangtua di masa pandemi. Ketiga, menunjang pembelajaran memanfaatkan TIK di masa belajar dirumah.

image-1608378459736.png

Sejak penetapan Covid-19 sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020, Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud No. 4 tahun 2020 yang menetapkan aturan belajar dari rumah (learn from home) bagi anak-anak sekolah dan bekerja dari rumah (work from home) bagi guru, termasuk mereka yang bekerja di satuan PAUD. Untuk dunia pendidikan di Indonesia kondisi ini merupakan hal yang tak terduga bagi semua pihak, bukan hanya guru. Guru, orang tua, dan anak- anak tiba-tiba harus mencari cara terbaik agar proses belajar tetap berjalan meskipun mereka di rumah dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan waktu berakhirnya.

Kondisi real yang terjadi tidak semua satuan PAUD dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) karena memang mengalami kesulitan disebabkan jaringan internet yang tidak stabil atau bahkan tidak ada. Untuk itu, peran Pemerintah mendukung orang tua, guru, dan anak dalam pembelajaran di rumah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Pemerintah, antara lain, menyediakan materi belajar pendidikan jarak jauh (PJJ) bagi jenjang PAUD melalui tayangan televisi dan berbagai sumber belajar daring, seperti Rumah Belajar, PAUD Pedia dan Anggun PAUD.

Dalam pelaksanaanya memang pelaksanaan PJJ tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Masih banyak keluhan dari guru mengenai kesulitan dalam mengoperasikan komputer, mengakses jaringan internet, internet tidak stabil, kesulitan mengomunikasikan pesan kepada orangtua, kesulitan menyusun perencanaan pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan anak di rumah melalui orangtua, dan juga kesulitan guru dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar anak di rumah.

Orangtua juga mempunyai keluhan yang serupa. Mungkin karena belum terbiasa. Mereka mengekuhkan tentang kesulitan mendampingi anak belajar karena belum paham caranya, tidak biasa menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran anak, tidak memahami maksud pesan yang disampaikan guru, dan lain-lain. Untuk mengantisipasi kondisi dan kendalakendala yang terjadi seperti itulah yang Kemdikbud menyusun seperangkat bahan ajar dalam rangka fasilitasi kebijakan belajar dari rumah. Melalui bahan ajar ini diharapkan guru dan orang tua memiliki pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran bersama anak di rumah. Buku saku yang diterbitkan Kemdikbud dapat digunakan sebagai pedomannya.

Program belajar dari rumah ini tentulah harus didesain agar tetap dapat menyenangkan bagi anak-anak. Bagaimanapun kondisinya dan di mana pun berada, dunia anak usia dini adalah bermain. Lingkungan rumah harus menjadi tempat yang menarik dan menjadi petualangan seru untuk mereka jelajahi. Pengalaman sehari-hari mulai anak bangun tidur hingga tidur kembali dapat menjadi pengalaman bermain sekaligus belajar bagi anak.

Pendampingan oleh bundanya sendiri dapat menjadi pengalaman anak mempelajari aktivitas kesehariannya. Misalnya saat mandi pagi, anak didampingi untuk mengenal anggota tubuhnya, menjaga dan merawat tubuhnya, serta belajar tentang perilaku hidup sehat. Dapur dan halaman rumah juga dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi anak PAUD. Dapur dapat berubah menjadi area memasak, membuat makanan kesukaan, dan menghias masakan bersama bunda. Halaman rumah dapat menjadi tempat bercocok tanam, bermain air, menggali, menggemburkan, dan memupuk tanaman. Yang tentunya semuanya didesain menyenangkan. Intinya, setiap kali anak melakukan kegiatan, selama itu pula anak belajar sesuatu. Kegiatan mengelompokkan dan menghitung benda yang dilakukan akan melatih kemampuan anak tentang konsep matematika yang pada akhirnya dapat mengembangkan aspek perkembangan kognitif mereka.

Sebagai penutup saya ingin kembali mengingatkan bahwa yang dapat bertahan dan berhasil bukanlah yang paling pandai, paling kuat, paling besar, atau paling kecil, melainkan yang adaptif, yaitu yang paling mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sambil terus berdoa agar pandemi ini segera berakhir, kita terus berusaha untuk adaptif agar dalam kondisi apapun kita tetap dapat memperoleh kebaikan.

 

Menciptakan Kecerdasan Adversiti Untuk Menjadikan Anak Tangguh

Oleh: Enjang Idrus, M.Pd.I, CH. C.NNLP, C.PS, C.STMI

image-1608379089062.png
Setiap anak memiliki ketangguhan masingmasing sesuai usianya. Ketangguhan ini perlu dilatihan supaya anak bisa tangguh. Dalam psikologi istilah tangguh ini sebagai kecerdasan adversiti atau kecerdasan ketahanan. kemampuan bertahan berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Stein & Book menjelaskan bahwa ketahanan yakni kemampuan menghadapi peristiwa tidak menyenangkan dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi berantakan, dengan secara aktif dan pasif mengatasi kesulitan. Ketahanan berkaitan kemampuan tetap tenang dan sabar, serta menghadapi kesulitan dengan kepala dingin, tanpa terbawa emosi.

Adversity Quotient (AQ), menurut Paul G. Stoltz AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan, adanya Kecerdasan ini perlu untuk dilatih sedari kecil supaya anak dapat menghadapi masalah sehari-harinya. Menerapkan rasa percaya diri pada seorang anak untuk mengambil keputusan sendiri dalam menyelesaikan masalah mereka, bantuan dilakukan apabila benar-benar tidak sanggup dilakukan anak. Terdapat tiga tipe AQ, yaitu: quitter, camper, dan climber.

  1. Quitter atau tipe penyerah. Misalnya: usahanya minim, mendapat kesulitan memilih mundur, dan tidak berani menghadapi permasalahan. Mereka beranggapan rumit, nyelimet, membingunkan, dan tidak percaya diri dapat menuntaskannya. Motivasinya kurang, saat menemukan kesulitan dalam menyelesaikan mudah menyerah dan berhenti tanpa dibarengi usaha keras.
  2. Camper sebagai tipe rata-rata. Anak tidak mau mengambil risiko terlalu besar dan merasa puas dengan kondisi atau keadaan yang telah dicapai, mengabaikan kemungkinan yang diperoleh lagi. Camper cepat puas atau selalu merasa cukup berada di zona nyaman. Tidak memaksimalkan usaha walaupun peluang dan kesempatan ada.
  3. Climber atau pejuang tinggi. Anak mempunyai target. Mampu mengusahakan dengan ulet dan gigih. berani dan disiplin tinggi terus keluar dari zona nyaman dan selalu berusaha sampai berhasil. Bercita-cita tinggi dan berjuang keras untuk mewujudkannya.

Orang tua dalam melejitkan kecerdasan ini mengalami dilema karena harus tegas pada anak. Tindakan tegas dalam hal ini sebuah kebaikan untuk anak, memang terlihat anak lelah, ibu merasa kasihan, atau ayah merasa miris melihat anak melakukan sendiri pekerjaannya dengan baik. Tetapi ini sebuah proses pendidikan untuk menciptkana anak yang tangguh, unggul, mampu mengatasi berbagai masalah di masa depannya. Penanaman kecerdasan ketangguhan pada anak sangat bermanfaat untuk pada saat dewasa nanti, sehingga menjadi anak tangguh dan mandiri. Meningkatkan kecerdasan ini dapat dilakukan dengan berbagai upaya, yaitu.

  1. Seringlah anak diajak bekerja yang diawali dari pekerjaan-pekerjaan kecil dari rumah. Misalnya membantu mencuci piring, membersihkan halaman rumah, mencuci baju dan lainnya.
  2. Seringlah anak diajak berpuasa sunah, bila beragama islam, karena saat puasa dia akan berjuang menahan lapar dan hal lainnya. 
  3. Membantu mengarahkan mengatasi kesulitan yang dihadapi anak dalam hidupnya, misalnya dalam tugas di sekolah. Tidak dikerjakan oleh ayah atau ibu tapi dibantu menuntaskanya dengan arahan orangtua, anak yang menyelesaikannya.
  4. Saat anak gagal jelaskan bahwa kegagalan bukanlah kesedihan, tetapi pembelajaran untuk lebih sukses kembali.
  5. Tidak langusng menuruti setiap kehendak anak, tetapi berikalah proses perjuangan untuk meraihnya. Misalnya saat anak ingin memiliki sepeda, maka tidak langsung dibelikan, tetapi diajarkan menabung walupun hasilnya tidak lama sekali untuk sampai cukup membeli sepeda, disitu orangtua memberikan tambahan untuk membeli speda. Maksudnya hargai nilia proses dalam menabungnya itu.
  6. Bila suatu pekerjaan yang bisa dilakukan anak, orang tua membiarkannya saja anak untuk melakukan.
  7. Saat anak berhasil memperoseh sesuatu atau prestasi, bisa mengucapkan selamat dan puji proses perjuangannya, sehingga anak terus berprestasi dan berjuang, bahwa keberhasilanya itu sebagai langkah awal untuk mencapai keberhasilan yang lebih tinggi.